0

As Syaja’ah (Keberanian)

Anak Palestina Melawan Tank Penjajah Zionis Israel. Source : Google Image

Anak Palestina Melawan Tank Penjajah Zionis Israel. Source : Google Image

 

Oleh : Ilden Abi Neri

Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS 9: 40)

Ali bin Abu Thalib bercerita, “Semua hijrah sembunyi-sembunyi kecuali Umar ibn Khattab. Saat hendak hijrah, dia menyandangkan busur panahnya dan mendatangi Ka’bah saat orang-orang Quraisy berada sekitar itu.Umar bertawaf tujuh kali, shalat dua rakaat, lalu mendatangi kelompok orang Quraisy satu demi satu sambil berkata, ‘Wahai wajah yang muram!Barang siapa ingin ibunya kehilangan anaknya, dan anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang bukit itu besok pagi.’ ”

Pengertian

شُجَاعٌ berani, gagah secara etimologinya

Menurut istilah: keteguhan hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara jantan dan terpuji.

Keberanian yang berlandaskan kebenaran, dilakukan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan untuk mengharapkan keridhaan Allah.

Asy Syaja’ah adalah salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme).

Lawan dari sifat syaja’ah adalah jubun (pengecut atau penakut). Pemberani adalah orang yang berani membela kebenaran dengan resiko apa pun dan takut untuk berbuat yang tidak benar. Sebaliknya, penakut adalah orang yang takut membela kebenaran.

Landasan Keberanian

  • Iman yang kokoh

Dalam kisah hijrah Rasullullah dan Abu Bakr ke Madinah, sesampai di gua Tsur keadaan mencekam dirasakan Abu Bakar, “Ya Rasulullah, sekiranya salah satu dari mereka melihat betisnya maka mereka pasti akan melihat kita.”  Rasulullah SAW. menenangkannya dengan menyatakan, “Duhai Abu Bakar, apakah kamu mengira kita di sini cuma berdua. Tidak, Abu Bakar. Kita di sini bertiga. Janganlah takut dan gentar,  Allah bersama kita.”

Sikap keberanian yang ditunjukkan Rasulullah disaat tidak ada lagi pertolongan apa-apa selain Allah, adalah pengejewantahan keimanan yang begitu kuat. Sekiranya iman lemah, mungkin akan mendatangkan kepanikan.

Kisah pembakaran Nabi Ibrahim a.s. menujukkan bahwa rasa takut manusiawi terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut syar’i yakni takut kepada Allah saja. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang dengan perintah Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.

Diantara turunan sikap dari keimanan yang kokoh adalah berupa hanya menggantungkan harapan kepada Allah dan juga sikap tawakkal yang benar, sehingga menimbulkan sikap berani dalam diri seseorang dalam menghadapi segalam macam situasi dan tantangan.

Bersabar Terhadap Ketaatan

Jalan kebenaran itu pasti tidak akan mulus, gampang. Jika mulus dan gampang saja yang dialami, justru harus dipertanyakan, apakah benar dalam jalan kebenaran? Banyak tantangan, baik dari dalam diri sendiri berupa hawa nafsu, maupun godaan syaithan yang tak akan pernah berhenti sampai akhir hayat, atau godaan manusia lainnya yang ingin menjerumuskan pada kebatilan. Semua itu akan selalu dihadapi, kondisi hidup yang sedang dihadapi, semisal himpitan masalah ekonomi, musibah dan lainnya bisa jadi melunturkan semangat. Tetapi, itulah memang jalan yang harus dihadapi.Bersabar adalah kunci, mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk dilaksanakan.Sabar jugalah jalan yang ditempuh para Rasul dan Nabi, salafus shaleh.Sehingga kita pun mesti berjuang dengan penuh kesabaran untuk menjalani ketaatan kepada Allah.

 

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.(QS 3: 200)

 

Sikap sabar jelas bukan berarti menerima segala bentuk penindasan apalagi berkaitan dengan pelecehan nilai agama, tapi sabar justru melahirkan sikap keberanian dalam menjalani perintah Allah sekaligus berjuang dalam menegakkan kalimat Allah.Sikap keberanian di sini tidak melulu terwujud dalam bentuk kebringasan, gagah perkasa, tapi bisa jadi dalam bentuk kelembutan dan memaafkan demi kemaslahatan yang lebih besar.Layaknya suri tauladan yang sangat menyentuh oleh Rasulullah, ketika dakwah nya di tolak di Taif yang sampai pada bentuk kekerasan. Namun, keberanian Rasulullah untuk memaafkan walaupun sungguh berat waktu itu ujiannya, karena pandangan jauh ke depan, membuat azab yang bisa jadi ditimpakan pada Taif tak jadi diturunkan. Dan buah dari kesabaran tersebut terwujud dengan ber Islam nya penduduk Taif kemudian hari.

 

Keimanan yang kuat akan menumbuhkan kecintaan yang lebih pada akhirat dari pada kehidupan dunia.

 

  • Mewariskan Hal yang Terbaik

 

Kita dalam tanda kutip adalah produk masa lalu, hasil didikan berbagai pihak bermula mungkin orang tua, keluarga, guru, lingkungan dan seterusnya.Sehingga sedikit banyaknya karakter yang kita miliki sekarang ini adalah buah dari pendidikan orang-orang yang terdahulu. Jika pendidikan yang itu baik, akan menghasilkan generasi yang baik. Begitu juga dengan kedepannya, kita adalah bagian dari orang yang akan mewarisi generasi masa depan. Karena perjuangan dakwah adalah perjuangan sampai akhir zaman, bukan satu generasi saja.Sehingga menyiapkan generasi baru yang kuat, adalah keharusan bagi keberlangsungan dakwah.

 

Selain itu generasi  yang kuat dan mandiri akan lebih berpeluang melahirkan karakter pemberani. Perumpamaan orang-orang yang hidup dibawah belas kasihan orang lain, atau orang yang meminta-minta, bisa jadi akan berkurang keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran terutama kepada pihak dimana dia meminta-minta atau mendapat belas kasihan.

 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”(QS 4: 9)

 

Nubuwah terkait penaklukan konstantinopel yang disampaikan Rasullullah menjadikan kaum muslimin pada masanya dan setelahnya berharap bisa menjadi orang yang disebutkan Rasulullah menjadi tokoh utama penakluknya atau anak keturunannya, atau mungkin menjadi bagian barisan tentaranya.Dan pada akhirnya panglima Al Fatih bersama para tentaranya yang berhasil menaklukan baru muncul berabad setelah penyampaiannubuwah tersebut.Dalam kisahnya, beliau telah dipersiapkan semenjak dini berupa penanaman karakter, akhlak ilmu dan seterusnya.

 

Bagaimana dengan masa kini? Janji Allah akan kembalinya kekuatan besar kaum muslimin mneguasai dunia sebelum akhir zaman, semoga memotivasi kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang semoga menjadi bagian menuju kebangkitan umat Islam, walaupun mungkin tidak hidup dimasa kejayaan tersebut nantinya.

Bentuk-bentuk Asy Syaja’ah

  • Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan di jalan Allah (jihad fii sabililah)

 

Banyak sekali kisah tauladan pada para sahabat generasi pertama umat Islam dapat diambil, mereka tidak takut akan mati, tidak cinta dunia, lebih mencintai kehidupan akhirat. Sehingga ketika perintah jihad datang, disambut dengan semangat tinggi.

 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam.Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal [8]: 15-16).

 

  • Berani menegakkan kebenaran

Mengatakan yang benar dengan terus terang memang sesuatu yang pahit bila dilihat dari sisi dampak yang bakal muncul. Namun bila dilihat dari sisi manfaat dan izzah keimanan ia menjadi sebuah keharusan. Sebagaimana sabda Nabi saw melalui Hadits Riwayat Ibnu Hibban. ‘Qulil haq walau kaana muuran ’ (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala risiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.

“Jihad yang paling afdhal adalah memperjuangkan keadilan di hadapan penguasa yang zhalim”. (Hadits Riwayat Abu Daud Dan Tirmidzi)

  • Memiliki Daya Tahan Yang Besar

Memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.

Banyak suri tauladan dalam sejarah perjuangan penyebaran dan penegakan Islam.Di masa-masa awal penyebaran Islam dalam fase Makkah, begitu besar sekali bentuk cobaan yang dirasakan kaum muslimin.Kekuatan yang belum seberapa saat itu, masih dalam rintisan awal-awal dakwah, harus dihadapi berbagai bentuk perlawanan, permusuhan, makar.Boikot ekonomi, siksaan terhadap individu bahkan pembunuhan.Secara umum kaum muslimin sungguh menderita waktu itu.

Sahabat Bilal menunjukkan sikap ketahanan ini, daya tahan yang begitu besar dalam menghadapi siksaan pemuka kaum Quraisy. Dan juga Keberanian mempertahankan aqidah hingga mati nampak pada Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Beliau menjadi syahidah pertama dalam Islam yang menumbuhsuburkan perjuangan dengan darahnya yang mulia.

  • Kemampuan Menjaga Rahasia

Merupakan kemampuan berani bertanggung jawab dan amanah, karena menyimpan rahasia bukanlah hal yang mudah.Menjaga rahasia adalah perkara yang sangat penting, apakah untuk menjaga kehormatan seseorang atau bahkan sampai untuk menjaga keberlangsungan dakwah.

Tidak semua orang tentunya bisa memiliki karakter ini, bahkan selevel sahabat pun hanya segelintir orang yang mendapat kepercayaan dari Rasulullah untuk menyimpan rahasia. Adalah Huzaifah ibnul Yaman r.a. seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan shahibus sirri. Dia dapat menyimpan rahasia dengan baik. Hingga tidak diketahui yang lain akan tugas dan tanggung jawabnya menjaga rahasia. Dia berani menghadapi konsekuensinya sekalipun terasa amat berat.Akan tetapi yang membuat gentar dirinya adalah bila tertangkap musuh. Sebagaimana yang pernah ia ungkapkan pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, saya tidak takut bila harus mati, akantetapi yang aku takutkan adalah bila aku tertangkap.

  • Mengendalikan Nafsu

Nafsu adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia.Nafsu tidak dapat dihilangkan tapi dapat dikendalikan.

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. 12: 53).

Diantara bentuk nafsu adalah amarah. Allah menyebutkan dalam Alqur’an bahwasanya salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain .

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. 3:133-134).

“Bukanlah dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat, sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya di waktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sayyidina Ali ketika dalam peperangan, diludahi oleh musuh beliau, bukannya malah emosi, justru beliau menghentikan tebasan pedang yang siap untuk menebas musuh tersebut, karena Ali takut kepada Allah sekiranya sikapnya justru dilandasi oleh amarah terhadap sikap musuh bukan karena mengharapkan keridaan Allah.

  • Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan bukanlah perkara gampang, butuh keberanian untuk betul-betul merasakan sendiri sambil mencari cara untuk memperbaikinya, bukan justru mengelakkannya apalagi menuduhkan kesalahan diri sendiri pada orang lain. Dan apabila berkaitan dengan pihak lain, tidak ragu, takut atau merasa hina untuk meminta maaf, dan bersedia bertanggung jawab.

Allah telah memberikan pelajaran berharga kepada umat manusia, melalui perjalanan hidup Nabi Adam.Semua manusia berpotensi berbuat kesalahan, namun rahmat pengampunan Allah sungguh besar, senantiasa terbuka sebelum ajal menjemput.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS 7: 23)

Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri adalah seorang ulama di jaman Khalifah Harun Al Rasyid. Alkisah pada suatu hari Khalifah sedang melaksanakan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa yang ada sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya tertutup untuk untuk umum. Pada saat Khalifah melakukan sa’i antara bukit Marwah dan Shofa seorang diri, sambil disaksikan, ribuan jamaah haji, berangkatlah Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri ke tempat sa’i. Sesampainya di Shofa, kebetulan Khalifah baru saja tiba di sana. Berteriaklahlah beliau, “Haruuuun…!”, tanpa menyebut embel-embel kekhalifahan.  Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah termasuk Khalifah terkejut melihat ke arah datangnya suara.Melihat wajah yang memanggil, menjawablah beliau, “Labbaika ya ‘amm”.

“Naiklah ke bukit Shofa! Lihatlah ke Ka’bah, berapakah jumlah manusia di sana ?”. “Tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah”, jawab Khalifah.”Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan dimintai pertanggung-jawabannya nanti di hadapan Allah, dan kamu akan diminta pertanggung-jawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu.  Lihatlah kepada dirimu, apakah pantas engkau perlakukan ummat seperti ini ?”. Mendengar ucapan Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri tersebut, menangislah Khalifah seraya mengakui kesalahan yang beliau lakukan. [5]Sikap Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri juga mencerminkan point nomor 2, berterus terang dalam kebenaran, meskipun harus disampaikan pada seseorang yang berposisi khalifah sekalipun.

  • Bersikap Obyektif Pada Diri Sendiri

Mengukur diri, memahami bahwa diri memiliki kekurangan dan kelebihan.Kekurangan untuk diperbaiki semaksimal mungkin dan kelebihan untuk dioptimalkan sebaik mungkin.Jangan terlalu berlebihan memandang diri yang mungkin bisa berakhir pada keangkuhan dan kesombongan. Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah yang sangat mashur, bahkan ada sebutan bahwasanya beliau adalah khulafaur rasyidin yang ke-5, memberikan contoh saat berpidato dihadapan rakyatnya: “Aku bukanlah orang yang paling baik dari kalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian akan tetapi aku mendapatkan amanah yang amat besar melebihi kalian. Karena itu bantulah diriku dalam menunaikan amanah ini.”

Penutup

Banyak kisah-kisah dulu dan sekarang yang mencerminkan keberanian hakiki untuk ditauladani, semoga kita semua bisa memilikinya dan mewariskannya pada generasi penerus.Wallahu ‘alam.

*Jika terdapat kesalahan atau kekeliruan, penulis dengan senang hati menerima koreksi, masukan dan perbaikan.

Referensi

[1] Dikutip dari buku Kisah Hidup Umar, hal 31, karya Dr. Musthafa Murad Penerbit Zaman. https://books.google.com.sa

[2] http://www.slideshare.net/fuad_ar_rhizma/syajaah

[3] http://oasetarbiyah.blogspot.com/2008/05/asy-syajaah-keberanian.html

[4] Berani Membela Kebenaran:  Seri  Pendidikan Karakter Islami, oleh Dr. Marzuki , M.Ag

[5] http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/tarbiyah3/tarbiyah/tar-0132.htm

[6] http://www.nanangwahidin.com/2014/09/makalah-hadits-tarbawi-sopan-dan-perwira.html

[7] http://www.dakwatuna.com/2008/05/27/673/berani-di-jalan-dakwah/#axzz3W8pOB0IM

[8] http://www.slideshare.net/fafapie/syajaah-dan-tawadhu

Dikutip dari di ildenabineri.blogspot.com

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *