0

HAJI, TAQWA DAN DERAJAT MANUSIA

Oleh : Achir Fahruddin *

 

Ritual ibadah haji telah tiba, Zulqaidah berakhir disambut Zulhijah, bulan yang dirahmati dalam peristiwa hajjatul wada’ Nabi Muhammad SAW. Momentum ini menjadi aktivitas ibadah para tamu Allah SWT dalam melaksanakan rukun Islam yang kelima sebagai penyempurna pondasi keislaman. Pergantian bulan diakhir penanggalan kalender Islam ini bukan saja menjadi cerita akan tujuan yang mulia tapi juga perenungan tentang sejauh mana kemanfaatan kita sebagai manusia.

Ibarat pohon yang menjulang tinggi, disemai ataupun tumbuh dengan sendiri, merangkak naik menjadi batang yang besar, memiliki daun kemudian berproses dengan cabang-cabang yang indah. Di penantian akhir pepohonan itu akan ditunggu pemiliknya berbuah kemudian dibagi dan akhirnya tumbang entah karena waktu, proses regenerasi maupun usia yang melapuk. Begitulah gambaran ibadah haji yang dilakukan hamper dua juta umat manusia ini. Harta yang begitu lelah dicari kemudian disucikan dalam ibadah haji, menyempurnakan rukun agama serta berlomba meraih ridha Allah SWT dalam ikhtiar menjadi pribadi yang taqwa.

Proses haji yang begitu sakral mengajarkan manusia tentang kesamaan derajat dihadapan Allah SWT. Proses memakai pakaian tanpa jahitan (ihram) yang sama adalah simbol tiada yang lebih berkuasa dan tinggi diantara yang lainnya dalam penglihatan Allah SWT meski semuanya memiliki pangkat, jabatan dan kekayaan dunia. Berputar mengelilingi Ka’bah (tawaf), lari-lari kecil dari bukit Safa dan Marwah (SAI), merasakan malam di musdalifah atau aktivitas wukuf di Arafah dan kemudian ke Mina, semuanya mengandung arti bahwa dimensi ketiadaan dan kehampaan mewarnai proses ini, lalu takbir, tahmid dan tahlil tiada henti dilafadzkan sebagai manifestasi penyucian diri. Seberapapun kekuasaan, keberadaan dan label dunia lainnya, dihadapan Allah kita semua adalah sama, manusia tempat lupa, salah dan hina.

Lihatlah fenomena kita di dunia ini, betapa manusia rakus kuasa, sombong harta dan takhta, memuji asal usul keluarga yang mulia, menutup mata hati, tidak sadar diri dan terkadang mendzalimi. Disisi lain banyak yatim piatu yang iba, butuh santunan dari yang berada namun kembali mata kita buta, memilih ibadah berkali-kali, bahkan haji pun dua tiga kali. Adakah wujud kasih sesama manusia? Entah, yang pasti derajat taqwa adalah hak prerogatif Allah SWT.

Kenangkan ingat lupakan jangan, itulah prinsip kesetaraan, kasih sayang dan kemuliaan. Dimensi gerak dalam proses ibadah haji menjadi nilai tersendiri bahwa kita harus sadar dengan proses hidup yang begitu singkat, betapapun jauh kita dengan pencipta, betapapun sibuknya kita dengan dunia, tempat dan jalan kembali adalah sama. Mengapa harus pongah? Itulah tujuan Agama, mengubah, menyadarkan dan memberi kabar tentang hari pembalasan bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan dengan pilihan kebaikan atau keburukan, surga atau neraka.

Dunia adalah tempat berladang, baik dan buruk adalah pilihan dan dimensi ilahiyah yang diturunkan kepada manusia menjadi kekuatan sekaligus ujian. Allah SWT telah berfirman tentang pilihan fujur dan taqwa, lalu kita memilihnya dan hidup dengan potensi akal nafsu. Derajat kita letaknya pada pilihan itu.

Sejatinya ibadah haji memberi arti yang sangat hakiki. Harta yang dititipkan Ilahi harus dibagi agar tercipta keseimbangan dan mengurangi beban saudara yang membutuhkan. Ketaatan secara vertikal (hablumminallah) harus sejalan dengan keyakinan berbuat baik dengan sesama manusia (hablumminannas). Tiada kekayaan abadi, predikat harum mewangi ataupun label keberadaan diri. Semua yang ditinggal hanyalah amal jariah, anak yang taqwa serta ilmu yang bermanfaat. Namun realitas hari ini berbeda, ada yang haji berkali-kali tapi akhlak jauh dari kata mulia, bertetangga hanyalah masalah tempat bukan persaudaraan, anak yatim dan fakir miskin jadi terlupa bahkan mereka yang rata-rata telah beribadah hanya memikirkan simbol dan label peribadatan.

Semoga kita tersadar dan saling mengingatkan di antara satu sama lain. Melihat kedalam kemudian berfikir dan sejenak berkontemplasi lalu bergerak memberi bukti, menyantuni dan meninggalkan segala bentuk pelarangan, mengikuti jalan pertengahan dari apa yang diperintahkan.

*Penulis adalah Perawat di Arab Saudi.

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *