0

Ibu… Aku Bangga Jadi Anak TKW

IMG_7337
Hari ini, 22 Desember 2015. Bangsa ini kembali memperingati Hari Ibu, Hari nasional yang dalam sejarahnya tercatat sebagai tanggal digelarnya Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, 22 Desember 1928. Hari ibu sendiri mulai resmi sebagai hari nasional setelah terbitnya Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1953 oleh Presiden Soekarno. Tanggal 22 Desember sengaja dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Hari ini..
Ribuan perempuan Indonesia, baik yang sudah berkeluarga dan memiliki anak maupun yang belum menikah, pergi bekerja di luar negeri. Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tahun 2014 mencatat sekitar 42% dari TKI yang dikirim ke luar negeri adalah TKI informal atau mereka yang bekerja di sektor rumah tangga alias pembantu rumah tangga atau sopir. Dari sisi gender, sebanyak 53% dari TKI informal yang dikirim ke luar negeri itu adalah perempuan. Artinya, perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Kita juga sering mendengar atau menyaksikan betapa berat perjuangan para Pahlawan Devisa ini di luar negeri. Dari tahun ke tahun, ada saja kasus yang menimpa mereka yang membuat pilu siapapun yang membaca atau menonton kisahnya di televisi.
Jika ditelusur jauh, banyak faktor yang mendorong mereka memilih bekerja di luar negeri, jauh dari orang tua, suami bahkan anak yang mungkin masih berusia balita. Muaranya adalah faktor ekonomi dan ketiadaan lapangan pekerjaan untuk mereka di dalam negeri. Ketiadaan pilihan dan iming-iming kuat tentang janji masa depan yang lebih baik menjadikan keberanian untuk meninggalkan kampung halaman itu muncul.
Banyak juga ditemui kasus penyalahgunaan dokumen menyertai keberangkatan mereka ke luar negeri. Pemalsuan dokumen umur, pendidikan hingga surat ijin suami contohnya. Banyak diantara mereka yang akhirnya pergi dengan “status palsu”.
“La haula wala quwata ila billah..kita tidak pernah tahu akan mendapatkan majikan seperti apa. Hanya bersandar saja pada Allah,” kira-kira begitu penjelasan Ibu saya, yang pernah bekerja di Arab Saudi lebih dari 12 tahun.
Disisi lain, pemerintah mendapatkan banyak keuntungan dengan banyaknya tenaga kerja di luar negeri ini. Kiriman jutaan dollar dari luar negeri ke kampung halaman tentu saja menambah devisa tak terhingga. Ketika 1997 dulu, saat Indonesia dihantam krisis dan uang investor banyak yang lari ke luar negeri, uang kiriman TKW lah salah satu bidadari penyelamat yang menyelamatkan negeri ini.
Dalam momentum hari ibu ini…
Semoga pemerintah bekerja maksimal, ada perubahan didalam kinerjanya sehingga mereka, para ibu yang memilih bekerja di luar negeri merasakan juga arti kemerdekaan itu. Jika kebijakan mengirim TKW informal ke luar negeri terus berlanjut, harus dipikirkan juga dampak sosialnya. Pemerintah harus bertanggung jawab memikirkan dampak sosial bagi anak-anak mereka yang ditinggalkan di kampung halaman, jangan sampai pendidikannya terbengkalai.
Perlindungan untuk buruh migran juga harus terus ditingkatkan, dari proses pelatihan, dokumen keberangkatan, penempatan, saat bekerja hingga kembali lagi ke tanah air!
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ibu ~ Iwan Fals
Selamat Hari Ibu..
Untukmu Ibuku..
Serta ratusan ribu Ibu negeri ini yang memilih menjadi TKW di luar negeri sana..
Karena keberanian tak terhingga kalian, kami bisa merasakan bangku sekolah..
Enjang Anwar Sanusi
@enjang_as
Anak Mantan TKW di Arab Saudi

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *