0

Jagalah Rahasia

Source pict : yournewswire.com

Source pict : yournewswire.com

 

Oleh Achmad Chafidz *

Siapa yang tidak punya rahasia ? Rahasia adalah perkara tersembunyi. Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki rahasia yang bahkan hanya dirinya dan Allah lah yang mengetahui, baik rahasia yang sifatnya positif (formula, ide, dll) maupun yang sifatny negatif (masalah keluarga, aib, dosa, dll). Menjaga rahasia berarti menyimpan rahasia agar tidak diketahui oleh orang lain, apalagi jika kita telah diberikan kepercayaan atau amanah oleh seserorang untuk menyimpannya. Menjaga rahasia hukum asalnya adalah wajib karena rahasia termasuk amanah yang harus dijaga dan janji yang harus ditunaikan. Allah berfirman dalam QS Al Isra : 24
“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan ditanyakan.”

Dan Juga dalam QS Al-Anfal : 27
“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”

Ali bin Abi Thalib r.a. juga berkata : “Rahasiamu adalah tawananmu, apabila engkau membocorkannya, maka engkau akan menjadi tawanannya”.
Pada umumnya manusia tidak akan tahan untuk tidak membicarakan rahasia terutama aib orang lain, apalagi di zaman sekarang. Gosip, sesuatu yang mudah sekali ditemui di masyarakat sekarang. Suatu perkara yang semestinya harus disembunyikan dengan rapi, mudah sekali terbongkar melalui jalan ini. Apabila kita dengan “sengaja” membocorkan rahasia tersebut, maka kita dikategorikan berkhianat. Membocorkan rahasia adalah bentuk penghkianatan. Na’udzubillahi min dzalik…. Karena itulah, sebelum berbicara kita dianjurkan untuk berpikir terlebih dahulu atas apa yang akan kita sampaikan. Hanya gara-gara lidah yang tidak bertulang ini, kita berkhianat kepada orang yang percaya kepada kita, menyebabkan rusaknya hubungan persaudaraan.
Al Munaawi rahimahullah berkata, “Tidak setiap orang yang amanah menjaga harta juga amanah menjaga rahasia. Menjaga diri dari harta lebih mudah daripada menjaga diri untuk tidak menyebarkan rahasia”. Perkataan Al Munaawi tersebut ada benarnya, menjaga harta lebih mudah daripada menjaga rahasia.
Sebuah perkara dapat diindikasikan sebagai sebuah rahasia atau bukan. Dengan cara sebagai berikut:
1)    Dengan ucapan, misal “Jangan sampai orang lain tahu, ini rahasia”
2)    Dengan tingkah laku, misalnya seseorang menyampaikan sesuatu kepada kita secara sembunyi-sembunyi, dikarenakan tidak ingin orang lain tahu. Maka sesuatu itu pun sudah dapat dikategorikan sebagai rahasia yang harus kita jaga.
3)    Dengan pertimbangan, yaitu dengan mempertimbangkan apakah perkara yang dia katakan atau kita lihat akan membuat dirinya malu nanti bila orang lain tahu (seperti cacat tubuh yang tidak terlihat, aib, dll). Maka hal ini pun dianggap sebagai rahasia.
Apabila suatu perkara menjadi rahasia, maka tidak halal bagi kita untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Contoh penjagaan rahasia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh para sahabat
Kita perlu meneladani penjagaan rahasia para sahabat dalam menjaga rahasia Nabi Muhammad SAW.
Dari Tsabit, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangiku dan di waktu itu aku sedang bermain-main dengan beberapa orang anak. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam kepada kami, kemudian menyuruhku untuk sesuatu keperluannya. Oleh sebab itu aku terlambat mendatangi ibuku. Selanjutnya setelah aku datang, ibu lalu bertanya, ‘Apakah yang menahanmu?’”
Aku pun berkata, “Aku diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sesuatu keperluannya.”
Ibu bertanya, “Apakah hajatnya itu?”
Aku menjawab, “Itu adalah rahasia.”
Ibu berkata, “Kalau begitu jangan sekali-kali engkau memberitahukan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kepada siapapun juga.”
Anas berkata, “Demi Allah, andaikata rahasia itu pernah aku beritahukan kepada seseorang, sesungguhnya aku akan memberitahukan hal itu kepadamu pula, wahai Tsabit.” (HR. Muslim, diriwayatkan pula oleh Al Bukhari dengan ringkas)
Saat itu Anas masih kecil, tetapi ia sudah mampu menjaga rahasia Rasulullah. Meskipun yang bertanya mengenai hal itu adalah ibunya sendiri. Seharusnya kita mencontoh sikap Anas tersebut, mampu menjaga rahasia.
Di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari ada beberapa perkara-perkara yang harus dijaga kerahasiaannya baik diminta ataupun tidak diminta, antara lain sebagai berikut :

Rahasia (Aib) Mayyit
Perkara lain yang harus dijaga kerahasiaannya adalah rahasia si mayyit, seperti aib yang terdapat pada tubuh jenazah. Perkara ini sangat penting untuk diperhatikan terutama oleh orang yang bertugas memandikan mayyit.
Dari Abu Rafi’ Aslam, maula (bekas hamba sahaya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang memandikan seorang mayit, lalu ia merahasiakan keburukan mayit itu, maka Allah ampuni dia sebanyak empat puluh kali.”
(HR. Al Hakim dan ia berkata bahwa ini adalah hadits shahih menurut syarat Imam Muslim, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib No. 3492)

Menjaga Rahasia Hubungan Suami Istri dalam Islam
Rahasia rumah tangga termasuk salah satu perkara yang harus dijaga kerahasiaannya. Baik suami maupun istri harus saling menjaga rahasia masing-masing pasangannya. Termasuk di dalamnya hubungan pasutri-nya kepada orang lain. Keduanya tidak boleh menceritakan hubungan ranjangnya kepada orang lain.
Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إنَّ مِنْ أشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى الْمَرْأةِ وتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya seburuk-buruknya manusia di sisi Allah dalam hal kedudukannya pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istrinya itu pun menyetubuhinya, kemudian menyiar-nyiarkan rahasia istrinya itu.” (HR. Muslim)

Kepada siapakah kita simpan rahasia kita ?
Sebagai mahluk sosial tentu kita akan senantiasa berinteraksi dengan orang lain, entah itu keluarga, teman dekat atau tetangga.  Terkadang, apabila kita mempunyai masalah pribadi yang sifatnya rahasia yang mengganjal pikiran, kita akan merasa lega apabilia kita menceritakannya kepada orang lain, istilahnya curhat kepada orang lain. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah orang yang kita ceritakan tadi cukup amanah atau dapat dipercaya untuk menjaga rahasia itu, meskipun orang lain tadi keluarga atau teman dekat. Berikut adalah beberapa poin yang penting untuk diperhatikan tatkala kita ingin curhat dan menceritakan rahasia kita kepada orang lain.
1)    Hendaknya bertanya dalam hati terlebih dahulu, apakah kita perlu atau seberapa penting untuk menceritakan rahasia kita kepada orang lain. Dipertimbangkan mashlahat dan mudarat yang akan datang.

2)    Hendaknya berjaga-jaga atau membayangkan bagaimana seandainya jika orang tersebut tidak amanah, apakah kita sudah siap menghadapi konsekuensi yang terjadi apabila rahasia tersebut terbongkar dan tersebar ?

3)    Sebaiknya jika harus ceritakan, sebaiknya diceritakan kepada orang sholeh yang terkenal amanah

4)    Jangan menceritakan rahasia kita kepada orang yang suka ingin tahu terhadap rahasia orang lain. Tipe orang seperti ini biasanya mudah sekali untuk membeberkan rahasia. Seorang penyair pernah berkata:
“Janganlah engkau membeberkan rahasia kepada orang yang mencari-cari rahasia tersebut darimu, karena pencari-cari rahasia akan membeberkannya”

5)    Jangan menceritakan rahasia kita kepada banyak orang, semakin banyak, semakin besar peluang rahasia kita akan tersebar. Sehingga  menjadi apa yang disebut “rahasia umum”.

Penutup
Apabila kita diamanahkan untuk menjaga rahasia orang lain, maka kita harus bertanggung jawab terhadap amanah itu dan memenuhi janji itu. Terlihat serperti sebuah perkara yang sepele akan tetapi berat konsekuensi. Terkadang kita sendiri sulit untuk menyimpan rahasia sendiri, apalagi jika harus menjaga rahasia orang lain. Maka jangan kuatir, Rasulullah bersabda “Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim).

 

*Penulis adalah Alumni S2 Teknik Kimia di King Saud University https://www.facebook.com/achafidz

References
http://m.dakwatuna.com/2013/06/03/34349/ssstt-ini-rahasia/
http://salafy.or.id/blog/2012/05/10/menjaga-rahasia/
http://firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/217-ketika-sahabat-kita-membeberkan-rahasia-kita-
http://islamiwiki.blogspot.com/2012/02/menjaga-rahasia-hubungan-suami-istri.html#.VPrfevmUfjs

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *