0

Mengingat Kematian dan Persiapan Menghadapinya

 

Bekal kematian

Kematian menjemput seseorang tidak melihat waktu, tempat, usia, tidak ada tawar-menawar. Tanpa ada tanda-tanda penyakit, dalam kondisi sehat wal afiat, tiba-tiba meninggal. Ada yang lagi bekerja, ada yang lagi duduk-duduk dengan keluarga, ada yang lagi belanja di pasar, ada yang habis olah raga, dan banyak yang sedang tidak bangun-bangun.
Rasulullah mengatakan: “Mati secara mendadak itu ketenangan bagi seorang mukmin dan sentakan kemarahan bagi pendurhaka”.

(HR. Imam Ahmad)

Rasulullah berlindung dari mati mendadak, dan beliau menyukai sakit dulu sebelum mati. (HR. Imam Thabrany di Mu’jam Kabir)

Kematian adalah suatu kepastian yang akan dialami oleh setiap yang bernyawa, termasuk kita manusia. Ia akan datang tepat waktu, tanpa bisa dimajukan atau diundurkan, kendati barang sedetik. Saat menghadapi kematian, petugas pencabut nyawa, Malakul Maut akan menyelesaikan tugasnya dengan sangat sempurna.

“Sekali-kali Allah tidak akan menanguhkan kematian seorang jiwa bila sudah datang ajalnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan”. (Al Munafiqun: 11)

Untuk itu tidak ada jalan lain selain selalu dalam keadaan waspada dan siap menerima kematian, kapan dan di mana pun. Dan sungguh kematian dari orang sekeliling kita sudah seharusnya banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Beberapa faedah dari mengingat kematian antara lain adalah sebagai berikut:

[1] Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

[3] Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

[4] Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

[5] Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Selama masih ada kesempatan mari kita mempersiapkan diri kita agar nanti kita menjemput kedatangan malaikat pencabut nyawa dengan penuh keyakinan dan kesiapan. Jangan tunggu nanti atau esok, karena ajal bukan di tangan kita, tapi di tangan Allah Rabbul ‘Alamin. Agar kita setiap saat siap menjemput ajal, ada beberapa hal yang perlu kita evaluasi dan kita perbaiki baik dari sisi kualitas maupun kuantitas:

  1. Akidah dan keimanan kita, jangan sampai tercampur syirik dan khurafat
  2. Amal ibadah kita, baik yan wajib maupun yang Sunnah, jangan sampai tercampur riya (ingin dilihat orang) ataupun bid’ah (melenceng dari ajaran Rasulullah SAW)
  3. Harta dan rezeki yang kita peroleh, jangan sampai tercampur aduk dengan yang haram dan syubhat (meragukan)
  4. Anak dan istri kita, apakah mereka dipersiapkan menjadi orang-orang yang shaleh/shalihah dan siap diselamatkan dari api neraka ?
  5. Ilmu dan pemahaman mengenai Islam, jangan sampai tercampur dengan pemahaman atau pemikiran yang menyimpang dan tidak sejalan dengan Allah dan Rasul-Nya.
  6. gaya hidup, cara hidup dan orientasi hidup. Jangan sampai menyimpang dari ajaran Islam.
  7. Siapkan anugerah yang Allah berikan berupa nyawa, harta dan ilmu untuk diinfakkan di jalan Allah.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda : “ Apabila manusia mati maka putuslah semua amalannya melainkan tiga perkara; shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang shaleh yang mendoakannya. (Hadits Riwayat Muslim, No. 3087)

Semoga Allah membantu dan menolong kita dalam menyiapkan bekal menghadapi kematian dan Dia mudahkan kita saat menghadapi sakratul maut. Semoga Allah pilih kita menjadi orang-orang yang sukses di sisi-Nya, kendati di mata manusia dianggap gagal. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin

 

Ahmad Chafidz, ST, MSc

Tentang Penulis :

Researcher in Automated Membrane Desalination System – King Saud University

https://www.facebook.com/achafidz

 

 

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *