0

Nataijul Ibadah wa Halawatul Ibadah | Buah dan Manisnya Beribadah by @BungAji

Gambar untuk nataijul Ibadah

Al Halawatul (manisnya) Ibadah

Di suatu malam diantara malam-malam panjang yang dilewati Rasulullah, Aisyah r.a. begitu terheran bahkan takjub dengan sikap suami tercintanya. Betapa tidak, seorang lelaki yang telah dijamin 100% Surga oleh Allah Subhanahu wata’ala, masih saja, tetap melakukan ibadah sunnah yang panjang hingga kaki nya bengkak.

Melihat fenomena ini, Aisyah bertanya “Kenapa kau lakukan itu, ya Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang dulu dan akan datang?”. Sebuah pertanyaan yang lahir dari perspektif manusia biasa (bukan nabi), yang secara logika manusia secara umum, dan mungkin termasuk kebanyakan kita, selalu menggunakan logika “untung rugi”, “kalau sudah dijamin masuk Surga, buat apa beribadah banyak – banyak? kan toh nantinya masuk Surga?”.

Ternyata, pandangan umum ini keliru, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada Ummatnya beyond of this logic, di atas dari logika dasar sekedar “untung rugi”.

Dengan sederhana Rasul menjawab, “Tak patutkah aku untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa bersyukur”?. Ma Sha Allah..ternyata rasa bersyukurlah yang mendorong Nabi yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi melakukan sebuah tambahan ibadah (nafilah) sunnah yang tak terbatas!.

Kira-kira, apa salah satu rahasia Rasulullah mampu melakukan ibadah yang begitu konsisten ini?

Rasa syukur yang mampu melahirkan ibadah dengan istiqomah (konsisten) ketika seorang hamba telah merasakah Halawatul Ibadah (Nikmatnya beribadah). Rasa lelah, kantuk, pegal, seolah di-cover oleh rasa manis dan nikmatnya beribadah. Kaki bengkak Rasulullah pun menjadi “tak seberapa” dibanding rasa lezat dan nikmatnya ber-taqarrub kepada Rabb semesta alam.

Sehingga dalam salah satu prinsipnya, Hasan Al Banna menuliskan bagaimana manisnya ibadah sebagai manifestasi iman yang sejati :

وللإيمان الصادق والعبادة الصحيحة والمجاهدة نور وحلاوة يقذفهما الله في قلب
من يشاء من عباده

“Iman yang sejati, ibadah yang sahih dan mujahadah dalam beribadah dapat memancarkan cahaya dan menghasilkan manisnya beribadah yang dicurahkan oleh Allah ke dalam hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.”

Hakikat Ibadah

Syaikh Shalih Al’Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatul Ushul mendefinisikan Ibadah sebagai “Perendahan diri kepada Allah karena faktor kecintaan dan pengagungan yaitu dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir). serta menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan oleh syari’at-Nya.’

Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah berkata, “Siapa yang menghendaki kebahagiaan abadi, maka hendaklah ia masuk dari pintu ubudiyah”

Ibadah ini pula dimana Allah telah tetapkan tujuan penciptaan jin dan manusia sebagaimana firman-Nya Adz Zariyat 56 :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Nataijul Ibadah (Buah Ibadah) 

Ibadah yang dilakukan secara ikhlas (karena Allah Tabaraka Wata’ala) dan benar (me-refer pada tata cara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), setidaknya melahirkan lima buah dari ibadah (Nataijul Ibadah) :

1. Meningkatnya keimanan :

Salah satu indikator Ibadah yang telah berbuah ketika hati kita merasakan sesuatu yang hebat setelah mendengar ayat-Nya dibacakan :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (Al-Anfal:2).

2. Khauf & Roja’

Kita akan selalu takut akan setiap ibadah yang kita lakukan ditolak oleh Allah, dan kita harus selalu berharap ( Raja’ ) agar Allah mengampuni segala dosa dosa kita, menerima segala amal ibadah kita, dan memasukkan kita ke dalam Jannah-Nya.

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Minhajul Qashidin, Khauf dan Roja’ merupakan dua sayap yang bisa digunakan untuk terbang mendekatkan diri pada setiap kedudukan yang tinggi. Keduanya merupakan tunggangan untuk menuju perjalanan ke akhirat dengan menghalau segala bentuk rintangan.

Khauf merupakan rasa takut kepada Allah sehingga dengan rasa takut ini seorang hamba bersungguh sungguh dalam melakukan ketaatan. Sebagian ulama mengatakan Orang yang takut bukanlah orang yang menangis, akan tetapi orang yang takut adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang-Nya, selalu memperbaiki kekurangan disertai taat atas segala perintahNya.

“Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga[9]” (Ar Rahman 46)

Keutamaan rasa takut dijelaskan pula melalui Hadits Riwayat Ibnu Abbas,

“Ada dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka untuk selamanya. Yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang senantiasa berjaga-jaga di jalan Allah” (HR Turmudzi, Minhajul Qashidin hal 189)

Sedangkan Raja’ merupakan harapan kepada Allah ta’ala agar Allah menurunkan karunia Nya serta tidak berputus asa untuk selalu taubat mengharap ampunan rahmat Nya.

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Az Zumar 53)

3. Ikhbat (tunduk)

Ketundukan yang penuh lahir dari pemahaman yang mendalam dan keimaanan yang kuat sebagaimana firman Allah:
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran Itulah yang hak dari Tuhan-mu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Hajj 54).

Tunduk atas hukum-hukum yang telah Allah tetapkan, baik melalui Al Quran maupun sunnah-sunnah Rasul-Nya, hingga hawa nafsu nya mengikuti apa yang telah digariskan oleh-Nya. Membenci apa yang Allah dan Rasul-Nya benci, dan mencintai apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. inilah sebentuk rasa tunduk yang totalitas dari seorang hamba.

4. Tawakkal

Merupakan sikap hati yang berserah diri dan bergantung pada Allah untuk mendapatkan segala yang diinginkan serta menolak apa yang tidak diinginkan disertai dengan sikap bergantung pada Allah dan melakukan sebab-sebab yang disyariatkan [10].

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin, “Tawakkal adalah separuh agama, yang separuhnya lagi inabah. Agama terdiri dari permohonan pertolongan dan ibadah. Tawakkal merupakan permohonan pertolongan sedangkan inabah adalah ibadah”.

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud :56).

5. Khusyu’

Khusyu’ menurut pengertian bahasa berarti tunduk, rendah dan tenang, seperti firman Allah “Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah”. Khusyu’ juga berarti keberadaan hati dihadapan Allah, dalam keadaan tunduk dan merendah, yang dilakukan secara bersamaan.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik” (Al Hadid 16)
Pribadi Taqwa, Puncak Hasil ibadah

Kelima komponen buah ibadah ini berujung pada satu bentuk level tertinggi bagi seorang hamba, yaitu Muttaqin (orang yang bertaqwa). Inilah tujuan utama dari ibadah adalah agar membentuk manusia bertaqwa :

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)

Sebuah kesalahan cara berpikir bagi para muslim, manakala menerjemahkan bahasa taqwa hanya pada sebatas aspek ‘ubudiyah (ibadah yang zhahir terlihat saja), tidak menyentuh aspek aspek kehidupan lain yang juga sangat penting. Pribadi taqwa adalah bagaimana seorang mu’min memiliki fikrah syumuliah (menyeluruh), seluruh aspek kehidupan, dari ekonomi, sosial budaya, bahkan hingga politik, cara pandang seorang Muslim haruslah berpijak dari islam, bukan dari cara pandang atau pemikiran atau paham yang bertentangan dengan islam, seperti halnya Atheisme, Komunisme, Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme, dst.

Ketika Ibadah telah berbuah sehingga menjadikan seseorang dengan level muttaqin, maka ia dituntut totalitas dalam membela agamanya, kecenderungan menuju Allah dalam setiap lini kehidupan. Kesukaan dan kebencian terhadap segala sesuatu berdasarkan harapan ingin mendapatkan ridha dari Allah. Menyukai makanan halal membenci makanan haram, mencintai pemimpin muslim yang adil serta membenci pemimpin kafir nan zhalim, mencintai Nabi Muhammad melebihi cinta kepada diri sendiri, hingga mencintai dan taat kepada Allah di atas segala sesuatu apapun yang ada di dunia ini tanpa ada satupun yang setara apalagi melebihi-Nya. Inilah sebentuk totalitas seorang Muttaqin.

Wallahu ta’ala a’lam

Ummul Hamaam, Riyadh, KSA.

Aji Teguh Prihatno

www.twitter.com/BungAji

 

Referensi
1. Al Quranul Karim
2. Syarh Tsalatsatul Ushul, Shalih Al ‘Utsaimin
3. Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
4. Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah.
5. http://muslim.or.id/aqidah/memahami-pengertian-ibadah.html
6. http://www.dakwatuna.com/2008/08/28/909/buah-ibadah/#axzz3RXLrrQCC
7. http://www.slideshare.net/mohamadsani1/nataijul-ibadah
8. http://www.shalat-tahajud.info/2012/07/hadits-hadits-tentang-sholat-tahajud.html
9. Yakni bagi orang yang takut kepada Tuhannya dan takut berhadapan dengan-Nya, dimana hal itu membuatnya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka dia memperoleh dua surga. Menurut Syaikh As Sa’diy, dia akan mendapatkan dua surga dari emas, baik bejana, perhiasan, bangunan dan apa yang ada di sana (dari emas); surga yang satu sebagai balasan karena meninggalkan larangan, sedangkan surga yang satu lagi karena mengerjakan ketaatan. http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-46-78.html#sthash.n3lFHBka.dpuf
10. Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir hal 105.

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *