0

Pergantian Penguasa dalam Prespektif Hukum dan Fakta Sejarah

Oleh : Abu Kautsar
(Pengurus DD PKS Riyadh)

Sebelum kedatangan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya, Madinah atau Yatsrib hanyalah sebuah kota kecil yang terdiri dari suku-suku dan belum ada sistem pemerintahan apalagi sentral kepemimipin yang terintegrasi dalam menata kehidupan masyarakatnya. Rasulullah yang pertama kali menjadi pemimpin tertinggi di Madinah, semua kabilah menjadi terintegrasi dalam satu komando, setelah melalui proses dan perjalanan selama dua belas tahun Madinah sudah tegak sebagai daulah Islamiyah dan terjadi ekspansi secara berkala, sistem pemerintahan yang Rasulullah SAW terapkan bukanlah sistem kerajaan atau sistem republik tetapi sitem pemerintahannya berdasarkan agama (hukumah diniyah) atau Teokrasi yang petunjuk dan garis-garis besar dalam mengelola negara mutlak bersumberkan wahyu.

Peristiwa baiatul aqobah dan baiatur ridwan adalah cikal bakal model pemerintahan Islam dalam melegitimasi pemimpin, Allah SWT berfirman:

إن الذين يبايعونك إنما يبايعون الله يد الله فوق أيديهم فمن نكث فإنما ينكث على نفسه { الفتح ؛ ١٠ }
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah tangan Allah diatas tangan mereka” {Al-Fatah : 10}

Rasulullah SAW dalam menjalankan roda pemerintahan, sistemnya sedikit berbeda dari nabi-nabi sebelumnya yakni sistem kerajaan monarki yang menunjuk putra mahkota atau penggantinya berdasarkan keturunan sebagaimana yang pernah terjadi pada era Nabi Sulaiman ke Nabi Daud alaihuma salam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyanjung keduanya dalam mengelola kerajaannya karena sangat memenuhi dan menjunjung keadilan serta penuh dengan nilai-nilai uluhiyah. Sementara di ayat lain Allah SWT mencela raja  Firaun yang menolak da’wah Nabi Musa Alaihissalam dan sampai memposisikan dirinya sebagai Tuhan, dan Allah SWT menjelaskan diantara raja-raja ada model raja seperti Firaun melalui lisan Ratu Saba :

قالت إن الملوك إذا دخلوا قرية أفسدوها وجعلوا أعزة أهلها أذلة وكذلك يفعلون {النمل : ٣٤ }
“Dia berkata,sesungguhnya apabila raja-raja memasuki satu negeri, niscaya mereka membinasakanya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina dan demikianlah yang akan mereka perbuat” {An-Naml : 34 }

 Berbagai kebijakan strategis telah diambil dan diterapkan oleh Rasulullah SAW sampai wafatnya, dan beliau  tidak menunjuk atau menyiapkan secara langsung estafet kepemimpinanya, itu menandakan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak dikhususkan bagi golongan atau kalangan tertentu apalagi berdasarkan keturunan atau dinasti, Islam membuka pintu seluas-luasnya bagi siapapun untuk bisa menjadi pemimpin selama memenuhi kriteria berdasarkan al-Quran dan Assunnah Allah SWT berfirman :

ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكرى إن الأرض يرثها عبادي الصالحين { الأنبياء : ١٠٥ }
“Sungguh telah kami tulis di kitab zabur dan sudah tercatat sebelumnya di lauh mahfudz, bahwasannya bumi akan diwariskan kepada hamba-hambaku yang sholeh.[Al-Anbiya;105 ]

 Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :

قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم ” إسمعوا وأطيعوا وإن استعمل عليكم عبد حبشي كأن رأسه زبيبة [ رواه البخاري ]

Rasulullah SAW bersabda ” Dengar dan taatlah kalian sekalipun yang memerintah kalian adalah seorang habsyi yang kepalanya seprti zabib (buah anggur kecil yg dikeringkan)” (HR.Bukhari)Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجد (رواه ابو داود والترمذي وإبن ماجة وأحمد وإبن حبان والحاكم )
Dalam Al-Quran sistem pemerintahan yang banyak diterapkan adalah sistem kerajaan kerena kerajaan sesungguhnya sesuai kebutuhan manusia pada zamanya selama memerintahnya memenuhi rasa keadilan dan nilai-nilai ketuhanan. Sekalipun Rasulullah SAW menerapkan sistem pemerintahan yang teokratis tetapi tidak serta merta menolak sistem kerajaan monarki, yang beliau tolak adalah manakala yang menjalankannya tidak memenuhi azas keadilan dan bersifat taghut.

 Wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 11 H membuat suhu politik sedikit memanas, tokoh-tokoh kalangan Anshar langsung mengadakan syura di Saqifah bani Saidah dan bersepakat menunjuk Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah, mereka mengira kaum muhajirin akan kembali ke Mekah pasca wafatnya Rasulullah SAW, peristiwa pembaiatan di bani Saqif membuat Abu Bakar,Umar dan Zubair langsung mendatangi mereka dan memberikan pemahaman. Zubair bin Awwam mengatakan bahwa “pemimpin dapat diterima oleh  bangsa Arab apabila dikendalikan oleh kalangan Quraisy”, kalangan Anshar tetap belum menerima dan bersikukuh mengajukan usulan lagi bahwa kekhalifahan harus dilakukan secara bergilir antara Muhajirin dan Anshar, opsi ini ditolak oleh kalangan Muhajirin, kemudian dari kalangan Anshar masih membuat usulan ingin menempatkan wakilnya di kabinet khalifah terpilih, opsi ini juga tetap ditolak sampai akhirnya Sa’ad bin Ubadah berpidato sekaligus membaiat Abu Bakar meyakinkan kalangan Anshar agar ridha dengan kepemimpinan yang tetap dikendalikan oleh kalangan Muhajirin dari suku Quraisy khususnya.

Para sahabat masih merasakan ketidakpercayaan akan wafatnya beliau. Kebingungan para sahabat diantaranya adalah mencari pengganti Rasulullah SAW dalam estafet kepemimpinan bukan pada kenabianya,karena kepemimipinan harus regenerasi ,da’wah dan ekspansi Islam harus terus berjalan, daulah Islamiyah harus tetap tegak sehingga membuat Umar Bin Khattab Radiyallahu ‘anhu mendatangi Abu Bakar Radiyallahu ‘anhu lalu berkata “ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu.” Justru aku ingin membaiatmu ” Jawab Abu Bakar.”Engkau lebih utama dariku ” Jawab Umar.” Engkau lebih kuat dariku dan Umar berkata “kekuatanku untukmu bergabung dengan keutamaanmu” Umar menutup dialog dan babak generasi baru dimulai dan kalangan Anshar turut membaiat Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah SAW.

Syura dan Baiat adalah salah satu methode mengangkat atau melegimitasi pemimpin, Sistem syura mudah terealisasi pada era empat khulafa Rasyidin.  Berdasarkan nash, Syura dan Baiat adalah sistem yang tauqifi sementara fakta sejarah dalam Islam terjadi dua metode,yang pertama dengan mengangkat/menunjuk putra Mahkota dinasti dan yang kedua membuat pemerintah tandingan.

Metode penunjukan putra mahkota pertama kali dilakukan pada masa daulah bani Umawiyah, Muawiyah Bin Abu Sofyan, Menunjuk dan membaiat Yazid bin Muawiyah pada tahun 60 H, keputusan mengangkat putranya banyak diprotes sahabat senior diantaranya Husen Bin Ali, Abdurrahman Bin Abu Bakar,Abdullah bin Umar, Abdullah Bin Abbas dan Abdullah Bin Zubair.

 Sekalipun secara hukum Islam keputusan Muawiyah Bin Abu Sufyan tidak di benarkan namun secara fakta pemerintahan bani Umayah terus berjalan Sampai pada terjadi peristiwa pemerintahan tandingan yang dideklarasikan oleh Abdullah bin Zubair pasca terbunuhnya Husain di Karbala, Ibnu Zubair menyatakan tidak kesetiaannya kepada Yazid bin Muawiyah, kemudian dia mengajak kaum muslimin untuk membaiat dirinya maka dia pun dibaiat oleh penduduk Madinah dan Mekah. Kemudian Ibnu Zubair mampu memegang kendali kekhalifahan dan dibaiat oleh semua penduduk negeri, akhirnya bani Umayah tidak lagi memiliki kekuasaan kecuali pada sebagian wilayah di Syam dengan demikian Ibnu Zubair resmi menjadi khalifah yang legal dan kekhalifahannya bertahan sembilan tahun dari 64 H-73 H. Setelah itu kekuasaannya direbut kembali oleh Abdumalik bin Marwan pada tahun 73 hijrah peristiwa tersebut sekaligus mengakhiri kekuasaan Ibnu Zubair,dan Abdulmalik bin Marwan resmi dan legal menjadi khalifah kaum muslimin.

 Membuat pemerintahan tandingan juga pernah terjadi pada masa bani Abbasiyah, yang dilakukan oleh Abdullah bin Muhamad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul muthalib. Abdullah bin Muhamad mendeklarasikan berdirinya daulah Abbasiyah pada tahun 132 H -656 H, sekaligus mengakhiri daulah bani Umayah. Hal tersebut sebelumnya sudah dilakukan oleh pendahulunya akan tetapi usahanya gagal dalam mendeklarasikan daulah bani Abassiyah.

 Silih bergantinya penguasa dinasti atau daulah, seperti daulah bani Umayah (41-132 H ), ke daulah bani Abassiyah (132 H-656 H), kemudian bani Abbasyiah ke kerajaan mamluk (648 H-923 H) dan diteruskan oleh khilafah Bani Ustmaniyah (923-1342 H), semua itu adalah fakta sejarah yang tidak sulit dinafikan oleh umat Islam.

 Pergantian pemimpin pasca era kulafaur Rasyidin banyak diawali dengan pertumpahan darah dan perbedaan pendapat, para ulama dan para ahli sejarah tidak ada yang satu pendapat dalam menyikapi kepemimpinan dinasti hasil kudeta, kalaupun menerima karena keterpaksaan demi menghindari pertikaian horizontal lebih besar di internal umat Islam, membuat pemerintahan tandingan sangat berlawanan dengan syari’ dan secara de facto banyak diingkari oleh para Ulama tetapi fakta sejarah terus berjalan rentang waktu yang sangat panjang.

 Pergantian pemerintah dengan proses semi kudeta juga pernah  terjadi di kerajaan Oman pada tahun 1390 H/1970, Qobus bin Said memaksa ayahnya turun tahta dan merebut kekuasaan dari Ayahnya sampai sekarang.

 Ghadar atau proses pergantian pemimpin dengan cara membuat pemerintahan tandingan atau dengan kudeta atau semi kudeta yang juga pernah terjadi seperti di Mesir beberapa tahun lalu adalah sebuah fakta sekaligus preseden buruk yang suka atau tidak suka nyata adanya dalam percaturan politik dunia Islam. Namun tidak bisa dijadikan dasar atau sumber rujukan dalam Islam.

Wallahu ‘Alam bissowab.
Riyadh,30 Januari 2018
——————————
14 Jamadil ula 1439 H

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *