0

Sepenggal Kisah Muhammad Suri Tauladan Mulia by @ildenabineri

Prophet Muhammad

Al Amin (Yang Terpercaya), begitulah gelar yang disematkan kaumnya kepada Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wassalam. Gelar bukan sembarang gelar, gelar yang tidak diminta tapi didapat dengan sendirinya dari hasil interaksi, pergaulan, hubungan yang berlangsung bertahun-tahun dengan kaumnya. Salah satu kisah termasyur yang menjadi bukti akan hal ini adalah ketika bagaimana beliau mendamaikan dan memberikan solusi di saat beberapa kepala kabilah/suku bangsa Arab bertikai dalam hal peletakan Hajarul Aswad ke tempat semula. Singkat cerita, pada akhirnya kepala-kepala kabilah yang bertikai tersebut mempercayakan dan menerima usulan beliau ini untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi.

Kepercayaan yang telah melekat kepada diri beliau bertahun-tahun lamanya, pada suatu titik
berbalik menjadi kebencian, permusuhan, kedengkian, dendam, perlawanan yang sungguh memilukan di saat sang terpercaya membawa risalah suci sebagai petunjuk dari Sang Khalik untuk membawa umat manusia kembali ke jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan yang di ridhai-Nya. Kaumnya Bangsa Arab khususnya daerah Mekkah—yang notabene menjadi bagian umat manusia yang pertama kali bersentuhan dengan seruan dari beliau—hampir semua menolak apa yang beliau sampaikan. Hanya sebagian (sangat) kecil yang menerima pada permulaanya (Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar ash Shiddiq, semoga Allah senantiasa memberikan rahmat berlimpah kepada mereka). Bahkan diantara keluarga beliau yang sebelumnya sangat menyayangi beliau, serta merta memberikan permusuhan “terbaik”. Bukankah selama ini kaumnya tahu betul bahwa beliau tidak mungkin berdusta? Bukankah kaumnya mengenal dengan sangat betapa mulia dan baik akhlaknya? Bukankah kaumnya sangat kenal bahwasanya beliau bukanlah orang yang ahli syair? Tapi tetap saja, kaumnya melakukan makar dengan melakukan segala cara daya dan upaya untuk menghambat seruan Ilahi yang disampaikannya. Seruan yang kaumnya tahu betul tidak mungkin seorang manusia mungkin membuat apalagi mengada-ngadakannya.
Seiring berjalan waktu sedikit demi sedikit ada orang-orang yang tersentuh dan terpanggil jiwanya dengan seruan Ilahi ini, karena memang tidak terbantahkan kebenarannya. Sehingga orang yang segarang dan sekasar Umar ibn Al-Khaththab pun tunduk patuh seketika diri dan jiwanya saat mendengar secara langsung ayat-ayat suci Al Qur’an. Ya, seruan kembali kepada tauhid. Seruan yang menolak, meluluhlantakkan, menghilangkan segala yang disembah , diibadahi kecuali hanya kepada Allah semata. Bahkan diantara kaumnya yang paling menolak pun mengakui bahwa benarlah seruan beliau ini. Namun apa dikata, nafsu telah membutakan nurani, pikiran dan perasaan untuk menerima sesuatu yang tak bertentangan dengan fitrah ini. Mereka yang mendustakan seruan ini takut kehilangan kekuasaan, kemegahan yang selama ini telah melekat ke diri, karena ajaran yang dibawa beliau tidak merendahkan sekelompok manusia, atau meninggikan sekelompok manusia yang lain melainkan hanya berdasarkan ketakwaan kepada Allah Sang Khalik. Ada juga yang bahkan iri dengki kenapa tidak dirinya yang dipilih oleh Sang Khalik untuk membawa seruan ini. Kesombongan, keangkuhan menutupi relung-relung jiwa mereka dari cahaya hidayah.

Beliau beserta orang-orang yang yang telah menyambut apa yang beliau ajarkan, akhirnya terusir. Terusir dari kampung halamannya sendiri, oleh kaum mereka sendiri, oleh keluarga mereka sendiri. Tidak sedikit yang sebelumnya mendapat siksaan, perlakuan yang sangat menyakitkan. Dan bahkan beliau sang utusan Yang Maha Kuasa, yang sampai sebelum diangkat menjadi Rasul sangat disayangi oleh kaumnya, direncanakan untuk dibunuh oleh kaumnya sendiri karena takut ajaran yang beliau sampaikan terus berkembang. Rencana tinggallah rencana, karena Sang Maha Kuasa memang belum berkehendak memanggil beliau ke hadirat-Nya, pupuslah makar orang-orang pendusta kebenaran tersebut.

Allah Maha Kuasa punya rencana lain, walau kaum beliau menolak seruan kebenaran ini, ada kaum lain yang jauh tempat tinggalnya dengan beliau tapi bersedia menerima seruan beliau dengan sepenuh hati, dan bahkan membantu dengan sebaik-baik bantuan yang bisa diberikan. Sehingga mereka semua bersatu bersaudara dalam satu naungan cahaya Islam, mereka itulah Kaum Muhajirin yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan Kaum Anshar selaku penduduk Madinah yang menyambut dan memberikan pertolongan. Mereka bersama-sama berjuang dibawah bimbingan beliau Rasul yang mulia, dan perlindungan Allah yang Maha Kuat. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun berikut-berikutnya terus menjadi titik titik kemajuan dan pertumbuhan perjuangan menegakkan seruan tauhid ini agar bisa tersampaikan ke seluruh umat manusia dimuka bumi. Tak terhitung pengorbanan harta, jiwa untuk menegakkan seruan kebenaran ini. Tentu masih diingat bagaimana Ustman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf menginfakkan harta bendanya dalam jumlah yang luar biasa banyak untuk penegakan risalah kebenaran ini dan banyak lagi kisah-kisah pengorbanan luar biasa lainnya dalam perjuangan kebenaran ini. Sehingga karena keyakinan keimanan yang telah mendarah daging dalam diri mereka semua, pengorbanan tersebut menjadi hal yang tak mereka risaukan karena balasan dari Allah yang memerintahkan mereka berbuat dan berjuang jauh lebih penting dan utama, yakni ridha-Nya berupa surga.
Tibalah pada suatu masa dimana seruan kebenaran ini mulai diterima dan meluas keberbagai wilayah dan negeri. Kunci-kunci kekuasaan kekayaan duniawi mulai berdatangan seiring dengan hal tersebut. Namun, kemuliaan beliau tetap mewarnai sejarah umat manusia. Kesederhanaan beliau saat sebelum mencapai kemenangan-kemenangan perjuangan tidak berbeda sama sekali saat setelahnya.

Pada suatu hari Umar ibn Al-Khaththab masuk ke dalam rumah beliau, didapatnya beliau sedang berbaring berlepas lelah di atas sebuah bangku, yang hamparannya adalah daun kurma yang dijalin, sehingga kadang-kadang berkesan bekas jalinan itu di pipinya. Tidak didapat perkakas dan kemewahan. Hanyalah sebuah geriba tempat air tergantung di dinding. Untuk wudhuk beliau. Maka terharulah Umar ibn Al- Khaththab sampai titik air matanya. Lalu bertanyalah beliau: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, ya Umar?”. Umar menjawab: “Sudah takluk seluruh tanah Arab ini ke bawah kekuasaanmu, ya Rasulullah! Dan anak kunci Masyrik dan Maghrib telah berada dalam tanganmu, namun engkau masih hidup seperti ini.” Dengan senyum beliau memberikan jawaban: “Ini bukan kaisar benua Rumawi, ya Umar! Dan bukan kisra negeri Persia. Ini adalah nubuat!”[PAI96 hal 215]

Teringat juga kita akan peristiwa penaklukan Mekah yang terjadi setelah beberapa tahun beliau terusir dari kampung halaman beliau tersebut. Apa yang beliau perbuat terhadap orang-orang yang telah mendustai seruan yang dibawa oleh beliau, orang-orang yang telah memberikan permusuhan, perlawanan, tindak kejahatan, penyiksaan dan berbagai bentuk makar terhadap beliau dan para pengikutnya? Bukankah jika suatu raja memasuki daerah taklukannya kebanyakan menghinakan pemimpin daerah taklukan tersebut, menganiaya masyarakatnya? Tapi tidak! Berbeda sama sekali dengan apa yang diperbuat beliau. Beliau dengan kebesaran dan keluhuran akhlaknya malah memberikan maaf. Tidak ada dendam yang membuncah, tidak ada pertumpahan darah! Karena beliau bukan raja, bukan kaisar! Beliau adalah Nabi, beliau adalah Rasul!
Bukanlah kekuasaan kekayaan pribadi yang beliau ingin capai. Bukanlah kemegahan istana, pundi-pundi emas yang ingin beliau kumpulkan. Bukanlah pujian dan penghomatan yang ingin beliau dapatkan. Cukuplah tujuan yakni menyampaikan seruan kebenaran, mendidik umat agar kembali dan tetap dalam jalan kebenaran. Jalan tauhid. Jalan yang diridhai oleh Allah Sang Khalik yang mengutus beliau.

Pada akhirnya beliau juga adalah manusia. Makhluk dengan keterbatasan umurnya, yang pasti akan mengalami yang namanya kematian. Tidak kekal. Luar biasanya, disaat-saat sakratul maut, masih saja beliau memikirkan kita-kita ini umatnya. Umatku. Umatku.Umatku. Begitu besar rasa kasih sayang dan cinta beliau kepada umatnya. Umat yang didambakannya bisa selamat hidup di dunia dan di akhirat. Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Kekal telah memutuskan, cukup! Cukup sudah perjuangan beliau di dunia ini, surga dengan segala limpahan rahmat yang terdapat di dalamnya sudah sangat rindu menanti kedatangan beliau.
“Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, Allah selamanya tetap hidup.” Begitulah nasihat Abu Bakar yang mengutip dari ayat Al Qur’an kepada Umar ibn Al-Khaththab khususnya dan kepada kita umat yang Rasulullah tinggalkan umumnya. Tersadarkanlah Umar ibn Al-Kaththab yang sempat khilaf, sehingga disadari bahwa Rasulullah adalah manusia yang notabene makhluk juga, bukan khalik! Makhluk dengan sifat ketidakkekalannya.

Selamat jalan wahai manusia mulia. Selamat jalan Rasulullah suri tauladan sejati. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah buat engkau.

(*)Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. (*)dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. (*)Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. (*)Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur. (*)Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, (*)siapa diantara kamu yang gila? (*)Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang-orang yang mendapat petunjuk. QS 68:1-7
Segala yang benar datangnya dari Allah dan penulis tidak luput dari kesalahan.
***

[PAI96]: Buku Pelajaran Agama Islam Terbitan 1996 karangan Buya Hamka Cetakan ke-12 Penerbit Bulan Bintang
Pernah dimuat di ildenabineri[dot]blogspot[dot]com tanggal 16 October 2011

Tentang Penulis :

Ilden Abi Neri, Telco Engineer di Riyadh, KSA.

Profile selengkapnya http://ildenabineri.blogspot.com/

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *