0

Seri Sejarah Nasional : “Hikayat Perang Sabi”

 

TENGKU CIK DITIRO

 

 

Oleh Nizar Hidayat *

Berbagai animasi kartun dalam dan luar negeri semakin menjamur dan menjadi tontonan setia anak-anak kecil saat ini. Melalui tanyangan video gratis youtube, hingga televisi berbayarpun animasi kartun sudah masuk kerumah-rumah kita. Tidak ada yang salah karena berhibur adalah suatu yang mubah dalam islam, namun akan menjadi makruh dan haram ketika berlebihan dan merusak sendi-sendi agama, budaya, dan nilai tradisi bangsa. Meski mulai banyak juga video-video animasi yang mendidik dan islami.

Studi kasus yang kita ambil adalah Hikayat Perang Sabi yang berasal dari Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil.

Kalau kita belajar dari sejarah, maka Aceh-lah yang paling sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873. Beribu macam taktik perang yang digunakan tetapi tidak dapat menguasai Nangro Aceh Daro Salam. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa kompeni.

Atas perintah Teuku Cik Di Tiro tahun 1881 di gubahlah syair HPS oleh Teuku Pante Kulu. Dan setiap akan berperang maka dibacakanlah syair itu di sawyah-sawyah meunasah, di bacakan di desa-desa untuk mengobarkan semangat jihad ke masyarakat.

Dan hasilnya pada pertempuran di Kuto Lengat Biru 14 Juli 1904 wanita dan anak-anak yang syahid tercatat 316 orang. Semangat jihad inilah yang semakin tidak menggetarkan rakyat Aceh untuk terus berjuang.

Pihak Belanda pun kelimpungan untuk mengatasinya, dimulailah dikirim tokoh Belanda Snouck Hurgronje yang disusupkan untuk mempelajari kebudayaan Aceh menemukan jalan pikiran, sikap dan perilaku rakyat Aceh. Tujuh bulan di Peukan, Snouck bergaul amat rapat dengan ulama. Dan dengan diam-diam, hampir setiap malam, dia mencatat semua percakapannya dengan kaum ulama, struktur masyarakat Aceh, dan kedudukan ulama di mata rakyat. Lalu, dengan rapi catatannya itu dia persembahkan pada Gubernur Jenderal di Batavia.

Tak cukup dengan catatan itu, Snouck Hurgronje kemudian membuat buku berjudul De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama. Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan

 

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikajat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga.

Kerinduan akan kisah-kisah perjuangan

Tidak Aneh jika beberapa negara di abad 19-an lahir dari sebuah kisah sederhana tokoh-tokoh yang ada atau tentang kisah-kisah kejayaan bangsa itu dimasa lalu. Indonesia juga lahir dari sebuah kisah tentang keinginan dan harapan bagi terciptanya nusantara yang bersatu oleh Gajah Mada. Sebuah harapan Patih Gajah Mada untuk menyatukan nusantara dalam satu negara akhirnya menjadi salah satu inspirasi bagi para tokoh pemuda bangsa -Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak dan Jong lainnya dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Hingga akhirnya terbentuklah Indonesia merdeka tahun 1945.

Bangsa ini akan semakin rindu dengan Kisah-Kisah Perjuangan para pahlawan seperti Pangeran Dipengoro, Imam Bonjol, Soekarno, KH Agus Salim atau cerita-cerita rakyat yang mengajarkan tentang nilai-nilai luhur bangsa akan kebaikan, keadilan, persatuan. yang dulu sering diperdengarkan oleh ibu-ibu kita ketika akan menidurkan anaknya.

Kita harus tetap konsisten mengingatkan pada anak cucu kita bahwa bangsa ini masih mempunyai sebuah kisah tentang bangsa Indonesia yang berketuhanan, berkeadilan, bermartabat, dan berketeladanan. Bangsa ini masih mempunyai banyak kisah perjuangan membela keadilan dan kebenaran. Bangsa ini masih memiliki banyak pahlawan yang berjuang dengan misi yang suci. bangsa ini tidak dibesarkan oleh para bandit, cerita-cerita ketidakadilan, kebobrokan moral para pejabatnya, permasalahan korupsi, perpecahan bangsa, penjahat bangsa yang menjual nilai keadilannya hanya untuk sebuah jabatan, kedudukan, kursi dan harta.

Kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu modal berharga dalam membangun karakter bangsa ini. Pembangunan karakter bangsa ditentukan oleh seberapa baiknya pembinaan keluarga. Keluarga menjadi titik awal bagi anak untuk menentukan jati dirinya. Transfer pola pikir dan cara hidup tidak perlu dilakukan melalui gerakan-gerakan besar, karena gerakan perubahan di komunitas kecil seperti keluarga, organisasi maupun lingkungan sekitar akan lebih efektif. Dengan demikian, proses transfer pola pikir dan internalisasi sikap hidup yang baik akan berjalan lebih lama sehingga mampu merubah kondisi masyarakat Indonesia dalam banyak segi. Dan Harapan itu masih ada.

 

*Penulis adalah kader DPD PIP PKS Riyadh yang saat ini bekerja sebagai engineer telecommunication

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *