0

Terima Kasih Ibu

IMG_7376

Terlihat letih ia menggendong ibunya ketika thawaf, iapun bersenandung,

“Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari

Setelah letih ia menyelesaikan thawaf-nya sambil menggendong ibu nya, lalu ia bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?”

Ibnu Umar menjawab dengan lugas, “Belum! walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkanmu.”

Itulah sepenggal kisah dari zaman salafush shalih, dimana manusia-manusia generasi terbaik lahir dan hidup, menghidupi peradaban melintasi zaman, hingga persoalan birrul walidain menjadi salah satu persoalan utama dalam persoalan muamalah.

Islam dengan jelas menempatkan bagaimana bakti seorang anak kepada kedua orang tua nya, kepada ibu dan bapaknya sebagai salah satu kewajiban utama kepada siapa seorang manusia berbakti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sahih nya, menginstruksikan kepada Ummat nya agar prioritas berbakti kepada ibu tiga kali lipat lebih daripada berbakti kepada ayah nya.

Semua manusia yang ada di bumi ini, terkecuali Nabi Adam dan istrinya Hawa, lahir ke dunia ini melalui perantara seorang ibu. Disinilah letak sebuah permulaan yang krusial bagi kehidupan seorang manusia. Apapun yang dilakukan, prestasi, kerja-kerja, dan semua kebaikan yang dilakukan seorang insan, tak kan dapat terjadi kalau ia tidak dilahirkan melalui perantara ibu nya.

Bakti kepada Ibu sebagai syarat terkabul nya doa

Mari kita belajar dari Uwais bin Amir atau Uwais Al Qorni, seorang pemuda dari Yaman, yang sangat berbakti kepada Ibunya,

Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah” (HR Muslim).

Selalu teringat akan hadits dari Rasulullah ini, sampai sampai seorang khalifah Umar bin Khattab “nitip doa” ampunan kepada Uwais, dan Uwais pun memohon ampunan kepada Allah untuk Sang Khalifah.

Berterima kasih lah kepada Ibu

Mari kita renungkan dan tadabburi salah satu ayat yang menerangkan betapa beratnya beban seorang ibu,
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

(Qs. Luqman : 14)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini,

“Mujahid berkata bahwa yang dimaksud [“وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ”] adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atha’ Al Kharasani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah [1]

Berterima kasih lah kepada ibu kita, yang telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan, mendidik kita hingga detik ini kita telah menjadi seorang manusia seutuhnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.”

(HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954).

[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 6/336, Darut Thayyibah.

Riyadh, 22 Desember 2015
Aji Teguh Prihatno @BungAji

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *